Jika hidup adalah tentang keberanian maka para pahlawan yang berperang tanpa takut pasti akan menjadi penguasanya, bukan para penakut yang mendengar suara petir saja takut akan tetapi ibarat roda yang berputar dan saling mengikat untuk menguatkan, jerujinya bukan takut untuk menghadapi aspal secara langsung akan tetapi mendorong ban untuk berani serta mengokohkan selama perjalanannya. Maka ketakutan pun akan selalu ada dalam dunia yang memberanikan dirinya.

Hidup juga bukan hanya tentang ketampanan, karena visualisasi bola mata manusia berbeda satu sama lain juga ketidaktampanan manusialah yang membedakan antara satu sama lain, jika ketidaktampanan tidak muncul maka dunia yang kita kenal hanyalah tentang pola visual tanpa pembeda satu sama lainnya, semua sama.

Apabila hidup hanya berdasarkan kebenaran maka tidak ada pola yang salah atau benar dan mendukung hipotesa satu sama lain, manusia juga tidak akan sempurna tanpa kesalahan yang mencirikan dia sebagai mahluk Tuhan. Sifat ketuhananpun diambil seluruhnya oleh manusia, tidak ada ruang pembeda antara pencipta dan ciptaanNya.

Hidup adalah tentang ruang-ruang sosial yang tergabung dalam satu pola kehidupan yang berputar tanpa henti serta terkait satu sama lain, keberanian tak akan ada tanpa rasa takut, ketampanan pun tidak akan berguna jika tak ada yang membedakannya dengan sosok lain, apalagi tentang kebenaran yang dibawa manusia dari akal dan kadang selalu subjektif.

Masihkah kita saling menghinakan?