Melewati ulang tahun pertamanya wabah covid muncul dibumi, sudah banyak dampak yang ditimbulkan virus mutkahir ini pada manusia, setidaknya dari berbagai berita di media atau yang terjadi disekeliling kita dampaknya memang sangat terasa, banyak yang sudah rindu dengan aktivitasnya, dengan pertemanannya bahkan mungkin rindu lain yang tidak banyak bisa dijabarkan kita saat ini, intinya Covid-19 ini merubah banyak hal, termasuk saya pribadi.

Mungkin saya termasuk orang parnoan, dan memang !!

Hal ini telihat dalam bagaimana saya menghadapi covid ini setahun belakangan, rumah saya dikunjungi orang lain bahkan teman dekat saya sendiri pun bisa dihitung jari, bahkan jumlahnya kurang dari 5, bahkan pada saat kelahiran anak saya dibulan Mei kemarin hanya beberapa orang yang saya izinkan datang kerumah itupun dengan protokol yang sangat ketat, harus cuci tangan dulu didepan pintu, masker kesehatan atau masker kain dan pastikan mereka ngobrol tidak terlalu dekat jaraknya.

Anak saya mungkin adalah anak yang paling jarang dilihat secara langsung didunia, bahkan sejak 8 bulan kelahirannya mungkin circle pertemanan dia hanyalah saya, mamanya, 1 orang anak tetangga, paman dan bibinya dan 3 orang sepupunya. cukup hanya itu dan tidak lebih dari 10 orang, akhirnya ketika bulan kemarin saya posting bersama anak saya pun teman-teman saya banyak yang kaget, bahkan ada beberapa yang marah, sensi karena merasa kenal dekat dengan saya akan tetapi dikabari pun tidak.

Saya cuma bisa berkata maaf..

Tidak enak sebenarnya menjadi orang yang berbeda, tapi pilihan itu harus saya ambil tidak lain karena kondisi keluarga saya sendiri, iya kondisi istri dan anak sayalah penentu terbesar bagaimana saya bersikap dalam menghadapi covid-19, karena ciri-ciri yang muncul akibat covid-19 sangat mengkhawatirkan dimana penderitanya diserang demam, pilek dan sesak, ciri ketiga itulah yang membuat saya was-was, karena istri saya adalah penderita asma yang memang sudah sangat jarang kambuh tapi kalau ternyata covid memicu kembali maka akan sangat susah untuk tetap dirumah dengan kondisi bayi yang masih harus disusui.

Hal mendasar lain adalah kondisi anak saya, ketika lahir karena proses lahirnya lama dan sepertinya menelan air ketuban maka anak saya sejak bayi punya sesak dan harus 7 hari berada dalam inkubator sampai bisa bernafas dengan stabil.

Kira-kira dengan riwayat kesehatan tersebut apakah saya yang normal bisa tenang ? tentu saja tidak, dengan pekerjaan saya dalam posisi sangat padat dan bertemu dengan puluhan orang setiap hari, bukan tidak mungkin akan menulari keluarga saya, walaupun setiap masuk rumah pakaian selalu langsung masuk mesin cuci, badan langsung dibersihkan akan tetapi peluang itu tetap saja ada, bayangkan dalm 10 bulan tahapan pilkada saya pulang selalu diatas jam 12 malam dengan agenda koordinasi, pelatihan, menghadiri undangan dan segala macam kegiatan lain di 33 kecamatan yang luasnya pake banget, bahkan dalam pilkada kemarin saya rapid hampir tiap bulan saking khawatirnya akan jadi OTG.

Kenapa OTG, karena dengan intensitas bertemu orang banyak dan saya masih sehat wal’afiat sangatlah bersyukur, karena saya beberapa kali satu forum koordinasi dengan beberapa orang dan mereka beberapa hari kemudian ternyata dinyatakan positif, negatif thinking saya mungkin saya pernah jadi OTG akan tetapi karena alhamdulilahnya imun bagus sehingga tidak sampai merasakan gejala bahkan antibodi sudah berjalan dengan baik, dan saya takut membayangkan kalau ternyata sayalah yang menlarkan kepada istri dan anak saya.

Akhirnya pilihan itulah yang harus saya ambil, dighibahin tetangga karena satu-satunya sekampung yang masang tandon cuci tangan saya rela, karena itu akan memaksa siapapun yang masuk akan mengerti bahwa saya berhati-hati, pilihan mengganti jabat tangan dengan beradu kepal bahkan sampai saat ini saya lakukan dengan melawan cibiran orang lain memakai kata-kata “kok wedi temen sih sama corona”, bahkan istri saya bisa dibilang sangat jarang keluar sampai dibilang kekurangan vitamin D.

Memang virus ini semakin hari semakin banyak, tapi tindakan orang lain juga semakin meremehkan karena banyak ketidakjelasan dan banyak yang akhirnya membiarkan dirinya terkena dengan tetap beraktivitas seperti biasa tanpa memikirkan orang lain atau keluarganya terkena.

Dan yang paling mencengangkan adalah tuduhan yang tidak berdasar lainnya, saya dianggap memutus silaturahmi dengan orang lain, teman bahkan beberapa sudah anggap dekat dan saya anggap sudah tau saya tapi masih juga berpikiran sama dengan orang lain kebanyakan yang tidak mengenal saya.

Saya hanya pengen bilang ” Semoga pandemi ini segera berlalu dan kita bisa bertemu dalam satu tempat lagi bercanda tawa tanpa takut kita saling menularkan, saya rindu”

Tapi mohon maaf pilihan itu bukan pilihan saya, dan saya menerima apapun konsekuensi dari orang lain terhadap pilihan yang saya ambil. Walaupun kalian memilih untuk tidak percaya pada virus ini, saya memilih untuk tetap percaya sampai ada satu hal yang meyakinkan saya bahwa virus ini asli atau palsu.

Saya memilih #stayathome, #jagajarak #memakaimasker #tidakberkerumun

N.b Gambar fitur saya ambil di website kementerian kesehatan